Mereka Yang Nulis Dari Balik Penjara
Sebuah Pendahulu
" seseorang yang dikenai hukum kurungan, apapun kasusnya, mendadak merasakan kekosongan dan tanpa daya. Dia akan dicomot begitu saja dan dijebloskan ke tempat terasing, nyaris tercerai sama sekali dari dunia luar. Meski masih ada ruang gerak untuk bergaul dengan orang senasib, ia paling kurang segera mafhum bahwa ada yang hilang dari dirinya, karena hukum kurungan identik dengan peniadaan hakikat manusia sebagai makhluk sosial,"
Begitulah kata pengantar dalam buku menghitung hari karya Arswendo Atmowiloto. Buku itu ditulis Arswendo saat dipenjara akibat kasus polling yang menghebohkan di Monitor.
Telah banyak manusia yang merasakan hidup di balik tembok penjara. Penjara merupakan sebuah tempat seorang manusia terpisah dari dunia luar selama masa hukumannya. Penjara memang identik yang dianggap bersalah. Tidak mengherankan jika ada larangan bagi tahanan tertentu untuk menerima informasi dari luar Penjara. Larangan semacam ini lazim dialami para tahanan politik.
Penjara bisa jadi adalah tempat yang membosankan bagi penghuninya karena tidak banyak hal yang bisa dilakukan. Seorang tahanan atau narapidana mungkin lebih banyak berdiam diri dan merenung. Seseorang yang banyak membaca sebelum dipenjara, biasanya lebih banyak berpikir dalam keterasingan di dalam penjara. Hasil renungan dan pikiran ini bagi orang-orang tertentu akan menjelma menjadi tulisan atau buku yang lahir dari dalam penjara.
Banyak karya besar dan terpengaruh yang lahir dari balik tembok penjara. Bagi sebagian tahanan, menulis bisa dijadikan pelampiasan untuk menumpahkan tekanan hidup di dalam penjara. Contohnya, di dalam penjara tentara Belanda di Makassar, Wolter Monginsidi menulis puisi-puisi religius. Dia tidak menulisnya di buku, tetapi di kertas bekas bungkus rokok atau roti.
Adolf Hilter juga menghasilkan karya besar di dalam penjara Hitler dipenjara setelah mengalami kegagalan dalam melakukan kudeta. Pada masa itu, Jerman berada dalam keterpurukan akibat kalah dalam Perang Dunia I. Menyadari hal tersebut, hitler tidak tinggal diam selama tiga belas bulan di pnjara. Ia pun kemudian menulis, sehingga lahirlah bukunya yang berjudul Mein kampf ( perjuanganku ), volume pertama. Dalam waktu singkat, buku tersebut meledak di pasaran ketika pertama kali terbit tahun 1925. Dari bukunya, Hitler menjadi kaya dant terkenal. Ia terkenal bukan hanya sebagai penulis buku best seller ( buku terlaris), tetapi ia juga menjadi tumpuan harapan bangsa Jerman yang ingin besar dan terbebas dari keterpurukan. Buku ini segera mengubah Jerman. Tulisan Hitler mampu menyihir sebagian besar masyarakat Jerman untuk bangkit dan membangun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar